Getting the transcript
Reading the captions from YouTube. A video nobody has opened here before takes 10 to 30 seconds; this page fills in on its own.
Getting the transcript
Reading the captions from YouTube. A video nobody has opened here before takes 10 to 30 seconds; this page fills in on its own.

Ruang Sharing Keperawatan_ Rr Tutik · @ruangsharingkeperawatan_rrtuti
Words
3,890
Runtime
43:44
Speaking pace
89wpm
Reading time
16min
89 words per minute, below the 160 25th percentile of 349 measured videos. That distribution comes from the 349-video hook study.
Opening (first 30 seconds)
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Senang bertemu dengan saya kembali. Semoga dalam kondisi sehat walafiat dan kita sama-sama ee berupaya untuk terus meningkatkan kompetensi dan membangun ee keprofesionalism dari keperawatan yang diharapkan bermanfaat bagi masyarakat. Pada kesempatan ini kita akan bahas tentang sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional
45 words, the words spoken in the first 30 seconds at 89 words per minute.
Free, no signup. See how the first 30 seconds hold attention, with rewrites.
Sentence shape
| Measure | This transcript |
|---|---|
| Sentences | 278 |
| Average words per sentence | 14.0 |
| Longest sentence | 86 words |
| Questions asked | 16 |
| Sentences containing a number | 39 |
Most used terms
Run the check on the words above: where attention is likely to drop, with a rewrite for each weak line. The free check shows the scores and the one issue costing the most.
What this transcript is
Every word below is the caption track YouTube publishes for this video, pulled from the video itself and reproduced unchanged. It is not Prepublish's writing, not a summary, and not a re-transcription: it is the video's own published captions. Indonesian captions, generated automatically by YouTube, in the video’s original language. Source: the video on YouTube. A channel that would rather this page did not exist can ask for its removal through the contact page, and it is removed.
No Script X-ray for this video: YouTube shows a Most replayed graph only once a video has enough views.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Senang bertemu dengan saya kembali. Semoga dalam kondisi sehat walafiat dan kita sama-sama ee berupaya untuk terus meningkatkan kompetensi dan membangun ee keprofesionalism dari keperawatan yang diharapkan bermanfaat bagi masyarakat. Pada kesempatan ini kita akan bahas tentang sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional atau biasa kita sebut dengan SP2KP. Nah, sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional ee tentunya tujuannya sangat mulia. bagaimana kita bisa memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang komprehensif yang tentunya diberikan melalui keilmuan profesionalis eeisasi dari perawat yang ee tentunya diharapkan ini memang bisa-bisa memberikan dampak nyata dan juga bisa memberikan ee suatu rekognisi bahwa memang perawat itu ee harus punya profesionalism di dalam pelayanan yang nanti ujungnya adalah mutu dan keselamatan pasien.
Kita harus kawal, Bapak, Ibu. Dan keperawatan menjadi salah satu profesi yang sangat besar di rumah sakit. 24 jam, 3 sip, 7 hari berturut-turut. Dan sekarang ini eranya sudah diperkenankan perawat menjadi pemimpin, tidak hanya level di keperawatan, tetapi juga seluruh di level rumah sakit. Kesempatan inilah yuk kita tunjukkan bahwa kita ee melakukan suatu pelayanan keperawatan yang profesional. Untuk menjadi profesional kita kembalikan pada hakikat bahwa keperawatan itu kegiatan asuhan untuk siapa?
Individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. bentuknya profesional loh ini. Nah, ini ya dihighlight-nya profesional tapi tidak bisa berdiri sendiri. Bagian integral dari tenaga kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat nih. Jelas banget. Kemudian rangkaian interaksi perawat klien lingkungan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian dalam merawat dirinya. konteksnya adalah klien. Untuk disebut profesional maka dia harus punya STR, punya izin praktik, dan ketika bekerja harus berdasarkan kode etik profesi, standar pelayanan keperawatan, standar profesi keperawatan, SOP, dan ketentuan perundangan.
Ini adalah ranah dari perawat. Ada tata kelola rumah sakit dan tata kelola klinis. di mana kita bisa melakukan keperawatan secara holistik komprehensif harus didukung dengan posaknya. Harus ada regulasinya, harus ada pedomannya, visi, misi. Kemudian juga di ruangan itu gimana model requir-nya? Apakah mau menggunakan SP 2KP? Kemudian ada yang model primary nurse atau mungkin ada ee tim atau ee MPKP yang kita kenal ya.
Itu boleh semua model delivery of care itu ada keunggulan dan juga ada kekurangannya. Kemudian ketika sudah memilih ya harus SDM-nya disiapkan. staffing, kemudian scheduling-nya gimana, skill mix-nya seperti apa. Ini yang akan kita belajarin dalam manajemen ruangan. Kemudian harus ada sistem supervisi, pengarahan, kemudian juga pengendalian eh quality and safety-nya seperti apa ya. Nah, kalau ini bisa terjadi maka asuhannya akan bermutu dan safety.
Oleh sebab itu, perlu kompetensi manajer, ketua tim, PN-nya, kepala ruangan itu harus belajar tentang bagaimana pengelolaan ee manajemen ruangan. Dari sisi akreditasi rumah sakit di sini tata kelola ya, di ruangan itu harus dikelola. Kalau di rumah sakit ada pimpinannya, kalau di ruangan gimana? Itu juga harus ada pimpinannya. Kemudian rentang kendalinya seperti apa, sumber dayanya seperti apa, peran komitenya seperti apa, bagaimana SDM-nya.
Ketika kita merencanakan SDM tentu dipengaruhi oleh metode delivery of care. Uran tanggung jawabnya setiap perawat. Ketika sudah ada perencanaan, bagaimana proses rekrutmen dan seleksinya? Perencanaannya baik, tetapi rekrutmennya titipan. Nah, ini juga berat gitu. Kemudian ada proses ketika sudah diterima ee ada uraian ee tanggung jawab dan kewenangan. Kemudian ada proses orientasi, orientasi umum, orientasi khusus. Kemudian tidak cukup itu, ada juga CPD-nya ya, pendidikan, pelatihan.
Kemudian sebelum ke pasien harus dilakukan kredensial keperawatan untuk mendapatkan ee rekomendasi dari komite untuk disiapkan oleh pimpinan mendapatkan surat penugasan klinis dan rincian kewenangan klinis baru kemudian dikembalikan ke unit. kemudian tetap disupervisi, dinilai kinerjanya, dinaikkan jenjang karirnya. Nah, inilah sebenarnya pola yang ee kita lakukan untuk suatu mutu gitu. Jadi, good corporate governance ini mempengaruhi good clinical governance.
Nah, ini sudah ya asuhan keperawatan tadi ee dikembalikan bahwa tidak hanya sekedar skill ee tetapi juga utuh bagaimana ee hubungan antara perawat dengan klien. Di dalam profesional kita kenal bahwa nursing proses itu menjadi suatu model berpikir eh perilaku clinical judgement dengan menggunakan critical thinking. dimulai dari assesment, menetapkan masalah dan kita sudah punya standar yaitu di KMK 425 ada 35 masalah keperawatan yang diperoleh dari tentunya pengkajian dari masalah ada 149 diagnosis keperawatan dan intervensinya ada 531.
Nah, tidak cukup ini Bapak Ibu, tetapi ada suatu yang harus dilakukan oleh seorang manajer di ruangan oleh manajer ini ada hierarkinya ya. Ada yang top manager di ruangan, mungkin ada sebutannya kepala ruangan, ada disebut eh koordinator, ada PJ, ada yang Num nursing unit manager. Nah, di sini harus punya peran karena apa? Untuk bisa melakukan ini para perawatnya itu harus dilakukan. Ada peran interpersonal, informasional, desisional.
Dengan perannya maka dia harus melakukan perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, dan pengendalian. Jadi ini yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kita break down satu persatu. Di perencanaan seorang pemimpin di ruangan harus tahu visi, misi, falsafah, moto keperawatan yang diturunkan dari apa? Dari falsafah, visi, misi, rumah sakit. Tetapkan ini. Karena apa? ini mengarahkan langkah kalau mau menjadi unggulan misalnya unggulan nursing care di bidang onkologi di kancah ASEAN berarti tidak cukup hanya pandai ee ini ya kaitannya dengan onkologi untuk asuhannya tetapi juga karena ASEAN berarti bahasa gitu.
Rumah sakit pendidikan berarti tidak cukup hanya director, tetapi juga bagaimana evident base-nya, bagaimana pola belajarnya. Nah, itu harus ee ke sana. Nah, inilah ee di fase perencanaan apa saja. Nah, kalau kita lihat ya ee rencana strategis keperawatan kita di ruangan harus tahu manajer ruangan, kepala ruangan harus tahu rencana strategis keperawatan karena apa? Dia bisa mengerjakan, bisa men-support strategis ee keperawatan.
Kemudian bagaimana tentang pedoman pelayanan, panduan SPO. Nah, bagaimana panduan asuhan keperawatan, integrated clinical pathway, pedoman auditnya, penetapan indikator mutu sensitif keperawatan, ini harus dimilikin. Nanti kita belajar tentang ee indikator mutu. Rencana strategis ini luar biasa, Bapak, Ibu. dari rencana ee mnya, SDM-nya, bagaimana pengembangan ruangan dari material, mesin, marketingnya, metodonya, informasi, sistem informasi.
Gimana kalau kita di ruangan tidak tahu itu ya harus tahu. Itu pentingnya ada peran informasional. Jadi dia ada ada menjadi ee sumber informasi yang didapatkan dari ee yang level lebih tinggi gitu. Nah, kemudian ada suatu proses yaitu pengorganisasian. Nah, di rumah sakit sendiri leader di rumah sakit ada di divisi mungkin sebutannya ada direktorat, ada divisi, ada ee tim-tim kerja, kemudian ada yang nonfungsional komited.
Nah, ketika mau melakukan suatu perencanaan ini juga haruslah namanya sama-sama leader itu melakukan suatu proses koordinasi dan kolaborasi. Ketika enggak ada itu berat. itu sangat-sangat berat. Karena apa sebenarnya? sama-sama loh untuk mengawal ee kompetensi perawat yang praktik berbasis etik legal ee peka budaya, kemudian praktiknya profesional, punya leadership dan ee pengelolaan yang baik, terus mengembangkan kualitas personal dan profesional, serta terus mengembangkan pendidikan dan pelatihan ee dan penelitian.
Nah, kemudian masuk pada ee pengorganisasiannya. Nah, ini rumah sakit harus melakukan analisis situasi. Apa sih metode delivery care yang paling tepat? Jadi, bukan hanya sekedar baik, tapi paling tepat ya. ee kita tahu kenal ada metode tim, metode fungsional, metode ee modular itu MPKP atau SP2 KP. Nah, kita posisinya gimana? Misalnya kalau nurse semuanya ya mungkin kita bisa menggunakan primer primary nurse murni, tetapi kalau kombinasi mungkin kita bisa menggunakan modelnya adalah ee mix ya.
Jadi atau ee modifikasi modular MPKP SP2K nih. Contohnya seperti ini kalau yang yang ada masih ada skill mix-nya ya. Jadi ada kepala ruangan, ada clinical nurse spesialis. Di bawahnya yang nurse akan jadi PN dan PN ini sebagai PPJA. Di bawahnya nanti ada ee jadi ee tim ya ee perawat pelaksananya vokasi. kemudian memegang ee kalau 1 banding 5 berarti karena berdua ee di bawah rentang kendalinya adalah 10 pasien. Nah, seperti itu itu tergantung.
Tetapi kalau misalnya semuanya sudah PN, semuanya sudah kompeten, ya kita bisa langsung misalnya lima ee 1 PN megang lima nanti 5 L 5 L semuanya. Tidak perlu ada hierarki. misalnya ee tim ee ee ada ke PPCA-nya, kemudian ada perawatnya. Ini metode tim ya sama ya hampir sama. Kemudian ini yang ee PN primary nurse gitu, PN kemudian langsung rentang kendalinya ke lima pasien. pasien nanti eh satu PN sebagai sister atau nurse ini.
Hierarki untuk atasan bawah bawahan tetapi lebih ke arah ee sebagai supervisor mentor seperti itu atau sister ya. Nah, ini contoh di medical bedah 1 bing 5. Tapi 1 banding 5 pun ini nanti mungkin ee di saat penghitungan SDM kita akan ee perhatikan ABK analisis ee beban kerja. Nah, ini contoh di ruang HD ya. ee karena 4 banding 2 ini PPJA ee ini 1 PPJA ee 4 banding 2 sampai 3 ya. Nah, ini 1 PPJA megang 3 contoh ya. Nah, ini nurse.
Nah, ini bisa menggunakan metode kasus karena memang kasusnya adalah kasus HD. Kemudian ICU 1 B 1 1 B 1 sampai 2. Nah, di sini nursem Kemudian megang satu ee banding sampai dua pasien. Ini di OK, kepala ruangan ee pagi kalau ini adalah tim satu, nanti di tim dua juga ada lagi nih, scrap sirkuler, kemudian perawat anestesi. Nah, itu ee nah ini diatur semuanya. Inilah pengorganisasian. Nah, pengorganisasian tidak cukup tadi, tetapi juga tentang uraian tugas dan kewenangan, kualifikasi.
Contoh ini kepala ruangan, kualifikasinya apa? Minimal nurse, ee sudah dikredensial, PK3, CPD, ee ini ya, dan telah CPD level PK1, PK2. Kemudian ya ini jadi catatan aja ee kalau dalam kondisi keterbatasan bisa level PK du. Nah, artinya apa? Untuk jadi kepala ruangan, untuk jadi ee ketua tim ya harusnya dia sudah mengikutin atau lewat dari level PK. Jangan baru masuk kemudian nanti tiba-tiba ee kalau hierarkinya semua PN oke gitu.
Tetapi kalau misalnya kat tim ya, ya dia harus ee perceptorp dulu itu seperti itu. Kemudian ee untuk jadi kepala ruangan di PM2 ya itu dia harus ee pernah merawat ee level PK kemudian sudah pernah menjadi PN atau PPJA atau KT. Nah, kemudian diatur kewenangan tanggung jawabnya. Ini contoh untuk PPJA. Jadi tidak hanya sekedar sebutan PPJA tapi enggak ngapa-ngapain. Harus ada gitu. Nah, PPCA ini dari mulai masuk sampai pulang continuity of care-nya harus dijamin.
Eh, dari mulai admission, kemudian general concern, inform, assessment, menetapkan eh nursing care plan, timbang terima, meeting, bedside handover, eh penyampaian komunikasi melalui Sbar, intervensi, evaluasi ee dan juga ee penulisan CPPT. eh melakukan evident based eh melakukan diskusi refleksi kasus interdiscipline ground health education planning dan terus saja dan tidak melupakan dokumentasi. Nah, ini siapa yang harusnya PPJA atau ee PIN ya?
Minimal NS sudah dikredensial minimal PK2 telah ee selesai CPD PK1 dan PK3-nya. Nah, itu seperti itu. Ee mungkin ee ada suatu mekanisme tentang bagaimana tadi ee uraian tugas dan jabatan dan mekanismenya tidak hanya cukup itu, tetapi juga ada yang namanya ee proses assesment, kemudian juga proses kredensial. Nah, ini ee kita lihat ya kalau di sini tadi oh ya ee bagaimana ee Pak Perawat baru orientasi perseptor kemudian dies sudahudah siap ee kemudian juga sudah dikredensial ada SPKRK-nya ini tidak selesai ini adalah pengorganisasiannya siapa yang melakukan apa, siapa ee kemudian alur prosesnya seperti apa misalnya oh yang melakukan kredensial adalah ee komite keperawatan yang melakukan bagaimana menjamin kompetensi ini sudah kompetensi atau tidak adalah bidang beserta jajarannya.
Setelah di punya ee SPK dan RKK dikembalikan ke unit ke bidang lagi dilakukan monitoring supervisi, kemudian dinilai penilaian kerja ada upaya menaikkan jenjang karir terus-menerus. Nah, inilah suatu pengorganisian flow yang terus-menerus. Kemudian ee setelah dilakukan kredensial ada suatu proses karena dikembalikan di unit tentunya dilakukan penilaian kinerja. Eh, sebelum penilaian kinerja ada proses yaitu directing dan controlling.
Nah, di dalam eh directing bagaimana ee seorang PPJA ini juga melakukan suatu interkolaborasi profesional. Kita tahu kalau di rumah sakit kita mempunyai satu pedoman yaitu eh namanya integrated clinical pathway. Dan sebenarnya integrated clinical pathway kalau kita lihat di KMK-nya itu bukan hanya milik dokter tetapi eh clinical pathway terintegrasi yang terdiri dari algoritma, protokol, prosedur standing order, dan juga catatan perkembangan pasien terintegrasi.
Semua dari PPA sebelum sampai ke ICP itu mempunyai namanya panduan. Ada pag panduan asuhan gizi, P Kf ee panduan ee asuhan kefarmasian, Pak panduan asuhan keperawatan, PPK punya medis. Nah, kepala ruangan harus tahu semuanya itu, gitu. Jadi tidak hanya ee saya perawat ee kemudian hanya tahu ee Pak saja karena sebagai ee leader tertinggi di ruangan, dia harus mengendalikan, harus mengkoordinasikan agar semua PPA ini bisa ee ber ee berinteraksi, berkolaborasi, dan juga melakukan suatu proses untuk ee suatu keselamatan pasien dan asuhan yang bermutu. itu.
Nah, dengan demikian proses ini adalah proses yang terus-menerus. pada ee proses directing ini, kepala ruangan itu melakukan motivasi untuk melakukan suatu proses. Ee bentuk nyatanya adalah misalnya ketika pertelepon, bagaimana cara ee menghargai ketika kita melakukan telepon tidak ee yang satu superior, yang satu ee subnya. Nah, itu tidak seperti itu. Nah, ini yang harus diarahkan termasuk bagaimana kepala ruangan menciptakan ronde bersama. kemudian ee membuat istilah-istilah yang membuat memang ini terjadilah namanya integrated eh praktik berbasis patient center care termasuk istilah tidak ada lagi bahwa perawat mendampingi dokter tetapi lebih ke arah visit bersama kemudian penetapan dischar planning itu ee kalau biasanya ee clinical nya memang di dokter ee karena pemulangan itu ee ranahnya kewenangan dokter, tetapi masukan untuk bahwa pasien ini boleh pulang itu boleh dari setiap aspek PPA, boleh dari keperawatan tentang bagaimana ee adaptasi untuk perawatan di rumah, kemudian dari ee apoteker untuk sudah siap. untuk ee bagaimana dia untuk kemandirian minum obat dan seterusnya.
Nah, ini ee kepala ruangan yang harus jadi penghel. Nah, ini adalah asuhan keperawatan ee dari mulai pengkajian kemudian juga ee penetapan diagnosis, kemudian ee di dalam diagnosis kita kenal ada aktual, risiko, promosi, kemudian merencanakan tindakan, implementasi. Nah, di dalam proses directing ini ya ee kepala ruangan misalnya saat ee preonference kemudian ee post conference paling tidak itu ada unsur-unsur untuk melakukan suatu ee pengarahan.
Jadi tidak hanya sekedar menilai tetapi juga ee melakukan suatu pengarahan. Jadi directing ada ee empat unsur. Yang pertama adalah memotivasi, berkomunikasi untuk meningkatkan ee suatu improvement. Kemudian ada unsur mengarahkan dan yang terakhir adalah delegasi. Nah, empat unsur ini harus dilakukan di saat ee operasionalnya misalnya di saat prekonference ee kemudian post conference dan juga saat bedset handover dan juga di saat supervisi oncoin.
Nah, ini adalah skenario asuhan. Kalau kita lihat dari standar AKP1, akses ee kesinambungan pasien, setiap pasien ketika datang itu dilakukan screening. Konteks di ruangan tentunya kita harus melakukan screening ini untuk melakukan cohorting. ketika ee ada pasien ee dengan kemungkinan transmisi droplet, transmisi ee sentuhan, maka akan ada upaya untuk jangan sampai terjadi transmisi yang melebar. Nah, inilah di standar AKP.
Kemudian juga kebutuhan pelayanan akan kegawatan ini AKP 1.1 ee harus diketahui oleh kepala ruangan dan PN. Jadi kalau kita melihat kondisi pasien dengan misalnya AB CD-nya levelnya ee kuning gitu, maka kita harus aware terhadap kondisi pasien ini. Setelah itu barulah kita melakukan pengkajian awal dengan 13 kriteria minimal dari mulai ee keluhan pengkajian status fungsional termasuk risiko jatuh, kemudian juga ee fisik ya, psikososial, budaya.
Kemudian ada populasi khusus. ini juga ee mempengaruhi tadi cohorting termasuk lansia kemudian ee ibu hamil termasuk dengan gangguan ee ini ya gangguan risiko bunuh diri. Sekarang di ee standar PP itu sudah ada untuk resiko bunuh diri. Kemudian juga kebutuhan edukasi KE3. Jadi kita memperhatikan ee hambatan dari motivasi, kemauan, dan tahu. Nah, ini juga kita perhatikan. Kemudian setelah pengkajian ee kita ada diagnosis di dalam standarnya ada dua yang membuat diagnosis, yaitu diagnosis medis dan diagnosis keperawatan.
Kemudian ada standarnya. Maksimal diagnosis keperawatan ditegakkan adalah 24 jam. Nah, fungsi dari kepala ruangan akan melakukan pengarahan dan supervisi serta penilaian. Karena sudah ada tahu kalau misalnya tidak lengkap ya ini makanya kalau misalnya waktu prekonference tidak dilakukan maka ya ujung-ujungnya nanti ee tahu-tahunya mau akreditasi semua dilengkapi kemudian yang perlu diperhatikan lagi tidak sekedar hanya standar PP tetapi standar PAP pelayanan asuhan pasien di mana ee ee standar PAP itu memperhatikan adanya suatu ee risiko tinggi ee ini tadi termasuk di dalamnya adalah populasi khusus.
Kemudian ketika kita bilang resiko tinggi maka setiap perawat utamanya PN atau PPJA harus punya kemampuan yang namanya early warning system. Jadi CPD yang harus diajukan oleh kepala ruangan kalau misalnya ternyata masih banyak yang tidak paham tentang EWS ini tergantung ruangannya. Kalau misalnya masuk di ee pediatrik berarti ee khusus ya early warning system-nya. Demikian juga untuk maternitas. tidak cukup hanya eh alarm untuk EWS, tetapi juga kemampuan untuk BHD.
Ee untuk level PK1 berarti BTCLS, level PK2 3 ACLS. Jadi ee dia juga harus merencanakan ee CPD-nya. Kemudian juga tentang bagaimana standar pelayanan darah, standar pelayanan nyeri, standar makanan dan nutrisi, dan khusus untuk yang kaitannya tadi resusitasi berarti standar tentang ENL eh ini ya end of life. Ketika end of life maka setiap person PPJA juga harus memahami tentang DNA, do not resusitasi. Siapa yang harus menyampaikan peran perawat harus apa.
Nah, di sinilah ee peran-peran di dalam ee menerapkan standar HPK, hak pasien dan keluarga. bagaimana ee melibatkan karena sebagai advokator perawat melibatkan ee pasien kalau yang masih kompeten dan keluarga di dalam ee memutuskan memutuskan untuk DNR atau mendapatkan bantuan resusitasi. Kemudian ada general concern, inform, kemudian eh asuhan spiritual HPK 1.2 untuk bimbingan rohani. Ee kemudian juga harus mengedepankan sasaran keselamatan pasien si go and safety.
Bagaimana ketika berinteraksi kita lihat ee perawatnya melakukan identifikasi pasien dengan cara verbal, kemudian juga dengan nonverbal. Ee kemudian kita sering temukan misalnya di ruang maternitas itu ada MGSO4 ee kewaspadaan pada obat dengan high alert yang tidak terkendali. Ini banyak. Kemudian ee sisa-sisa anestesi kemudian ee yang bersifat narkose itu masih banyak. Nah, ini ini peran dari kepala ruangan gitu untuk meyakinkan semuanya eh safety ini.
Kemudian tentunya tidak sendiri tentunya harus di ee delegasikan, diarahkan sehingga menjadi tanggung jawab bersama tetapi lead-nya adalah pada kepala ruangan. Kemudian kalau ee masuk pada ranah persiapan bedah SKP4, bagaimana advokasi ketika ee ada suatu ee dokter operator harus melakukan penanda penandaan side marking. Jangan sampai terjadi side marking yang salah, identifikasi pasien yang benar. kemudian pencegahan ee dan pengendalian infeksi dan juga resiko jatuh.
Semua ini harus sesuai dengan standar. Bagaimana continuity of care ketika pasien mau pindah ke ruangan atau penyiapan pulang di chat planning dan juga ketika pasien meninggal dan semuanya harus didokumentasikan pada standar Mr. Mik. Oke, ini contoh dari kasus. ee nanti mungkin ketika ee simulasi ee praktik kita akan ee ini ya demo roleplay-kan ini juga ee dari mulai pengkajiannya harus ee nanti ini PP1 ini menunjukkan ini mungkin agak diperbesar misalnya pengkajian satu psikososial ini adalah standar PP1 kemudian ini pengkajian sistem ini PP1 satu.
Kemudian kalau kita lihat ee fungsional juga masuk di standar PP1. Kemudian PP1.2 ini adalah ee kaitannya dengan ee kebersihan kemudian edukasi ee KE3 ee kemudian tentang nyeri ee 1.1 ee kemudian fungsional 1.2. Nah, ini ee sebenarnya tidak perlu dihafal, tetapi menunjukkan bahwa setiap item itu sudah ee tercover. Kemudian ini adalah untuk intervensi. Kemudian masuk pada ee ini ya termasuk di dalam intervensi ini ee rencananya ya rencananya itu harus ada bisa diukur kemudian spesifik ada time-nya.
Nah, ini ada ee di ee standar PP 1.1. Kemudian ada tentang handover CPPT untuk keperawatan itu ee minimal satu kali persip. Nah, ini ada standar ee SKP2. Kemudian kalau mau pindah ke ruangan juga pada standar SKP2. Ini contoh isian ee CPPT yang nanti kalau kita breakdown, oh ini adalah 1.1 status fungsional. Jadi nanti kita lihat partial care belum BAB ee makannya seperti apa, itu soalnya adalah status fungsional. Kemudian PP2 ini adalah tentang ee resiko EWS-nya kuning.
Nah, seperti itu. Kemudian ee PAP 2. 3 ini tentang asuhan psikososial. Kemudian ee tentang SKP2 serah terima. kemudian ee integrasi ada tanda tangan dan seterusnya. Ini nanti kita bahas saat simulasi. Kemudian tentang edukasi. Edukasi ada di ee KE5, KE3. Ee yang disebut edukasi ini tidak sekedar informasi. Jadi dibedakan antara edukasi dan informasi. Kemudian ee ketika kita bilang ini adalah edukasi, maka yang dibutuhkan adalah media.
Kemudian ee harus ada bukti bahwa ada interaksi antara perawat dengan ee klien atau pasien atau keluarganya dan dibuktikan bagaimana evaluasinya. Kemudian dischart planning. Di chat planning sejatinya tidak hanya oleh perawat, tetapi karena perawat yang 24 jam. Jadi unsur dari mulai kesiapan pulang, kemudian status fungsional, kemudian juga ee hemodinamik dan sebagainya seharusnya perawat yang lebih mengetahui sehingga ee keputusan dari pemulangan oleh ee di-endingnya oleh dokter itu sebenarnya diarahkan oleh perawat.
Nah, ini contoh formnya. Kemudian ringkasan pulang. ini ringkasan pulang yang kita susun sudah ee lebih ke arah interkolaborasi. Jadi, tidak hanya medik, tetapi juga ee ada tentang diagnosis keperawatan, tindakan keperawatan, dan juga adanya ee order atau instruksi dan edukasi baik dari medis dan dari perawat. Nah, inilah yang harus dilakukan terus-menerus. Kemudian untuk pengontrolan salah satunya adalah dengan ee mengukur indikator mutu, melaporkan insiden keselamatan pasien.
Nah, kalau sebelum pengukuran ee mutu tentunya ada suatu proses yaitu yang namanya manajemen risiko. Perbedaannya manajemen risiko bersifat proaktif sedangkan melaporkan insiden bersifat reaktif. Nah, ini contoh-contoh ee indikator mutu keperawatan. nanti di ee bab ee pembahasan tentang mutu kita akan bicara lebih mendetail. Kemudian ee kalau kita lihat contoh-contoh indikator mutu itu ada yang tipenya adalah input, kemudian proses atau struktur dan juga outcome.
Ini eh sensitif indikator keperawatan. oleh Kemenkes antara lain keselamatan pasien, kemudian ee pemberian bantuan pada pasien dengan keterbatasan diri, kepuasan pasien ee yang di pengaruhi oleh asuhan keperawatan, kemudian kecemasan, pemberian ee ini ya intervensi untuk kecemasan, pemberian intervensi untuk kenyamanan, dan pemberian edukasi. ee terhadap ee kesiapan pemulangan pasien. Nah, ini standar mutu nanti kita akan bahas termasuk audit ee termasuk di dalamnya bagaimana cara me buat dari panduan asuhan keperawatan sampai diintegrasikan di ee audit klinis.
Nah, ini adalah form yang pernah kita susun bersama antara ee Persi KS dan WHO tentang panduan praktik ya. Ee panduan praktik ini ada PPK untuk dokter, Pak untuk perawat, kemudian ada ee pagi dan PF untuk farmasi. Kemudian dari semua panduan itu diintegrasikan dan kalau kita berbicara integrated clinical patway cirinya adalah keseluruhan PPA berkontribusi dari pasien masuk dan ada yang namanya proyeksi atau forecasting.
Ee hari rawatnya berapa hari. Ciri khas dari ICP adalah pada pasien yang tidak ada variasi. Jadi ini sering ditanyakan dan ee ketika kita sampaikan ICP ini adalah gideline. Jadi bukan rekam medis, tetapi ketika melakukan audit maka akan membandingkan guideline dengan ee si ee ini ya implementasinya dari rekam medis. beberapa ada yang membuat dengan self. Jadi evaluasinya tidak dibandingkan dengan rekam medis, tapi dengan self evaluasi.
Jadi dicontrenglah itu si ee rekam eh sori guideline ICP-nya. Nah, makna mer ee hijau adalah harus dilakukan, kuning bisa dilakukan atau bisa tidak. Nah, di samping ee mengevaluasi dari asuhan yang sudah ee dilakukan melalui audit klinis maupun supervisi klinis, selain itu juga ada OPPE ongoing professional performance evaluasi yang juga dilakukan oleh ee berjenjang ya perawat pelaksana oleh PN-nya, kemudian PN oleh kepala ruangannya.
Bedanya kalau yang tadi asuhan klinis dari ICP, tetapi kalau OPPE ini termasuk di dalamnya sikap dan juga ee pengembangan profesional. Jadi ada tiga unsur di dalam OPPE ini juga dinilai oleh ee kepala ruangan yaitu kinerja klinis, sikap, dan juga pengembangan ee personal dan profesional. Nah, terakhir peran kepala ruangan harus terus melakukan quality improvement. Ketika data sudah ada, maka bukan hanya eh blaming, tetapi bagaimana bersama-sama ee merencanakan bottom up bersama-sama, kemudian mengerjakan, dicek kembali action lagi.
Itulah yang terus-menerus dilakukan dan semoga dengan siklus POSAK SP2K ini ya mengawal ee perawat bisa berperan secara profesional selama 24 jam, 3 SIP dan 7 hari berturut-turut. Mengapa demikian? Karena perawat sangat berkontribusi dalam mutu dan keselamatan pasien. Oleh sebab itu, tata kelola pelayanan dan sistem keperawatan harus terus dipayakan untuk ee menuju ke arah perbaikan. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
The words are the caption track's own and nothing is reworded or re-transcribed. Paragraph breaks are placed between sentences so the text reads as prose.
Free tools for your own script: paste a draft and see where it stands before you record it.
Paste your draft and see where viewers are likely to drop off, with a rewrite for each weak line.
Paste the first 30 seconds of your own draft for a hook score and rewrites.
Check your draft against YouTube's advertiser-friendly guidelines before you record it.
Read this channel's public videos and transcripts, and download a writing brief for it.