Getting the transcript
Reading the captions from YouTube. A video nobody has opened here before takes 10 to 30 seconds; this page fills in on its own.
Getting the transcript
Reading the captions from YouTube. A video nobody has opened here before takes 10 to 30 seconds; this page fills in on its own.

Sudut_Lingkaran · @Sudut_Lingkaran
Where viewers went back to watch this video again, from YouTube's public Most replayed graph, lined up with what was said at that moment.
Most replayed moment #1
10:2147.6x the video's typical replay level
perjanjian dengan rakyat harus mendahului konsesi-konsesi di belakang layar. Yang kita mau duga sekarang adalah pasti ada konsesi di belakang layar. Jadi kecurigaan lebih penting daripada kejujuran hari ini. Kecurigaan akan menyelamatkan kita.
Said at 10:13
Most replayed moment #2
11:2334.6x the video's typical replay level
[tepuk tangan] Saya tambah sebentar. Saya tambah sebentar boleh ya? Ini mungkin mungkin terakhir ini ya. Saya pernah diberikan ilmu sama Bapak saya. Kalau kita
Said at 11:16
Most replayed moment #3
12:3312.6x the video's typical replay level
salah satunya mengawal isi dari RUU perampasan aset ini itu dengan sendirinya itu yang saya ingin itu tugas orang-orang yang pintar ini hari-hari ini jadi ketemu ya sudah kita sudah menetapkan tanggal 15
Said at 12:26
The graph counts replays. It does not show where viewers stopped watching.
Words
1,318
Runtime
12:55
Speaking pace
102wpm
Reading time
6min
102 words per minute, below the 160 25th percentile of 349 measured videos. That distribution comes from the 349-video hook study.
Opening (first 30 seconds)
Karena semakin banyak pertimbangan, maka tujuan itu semakin jauh dan semakin tidak tercapai. Itu saja. Enggak, saya enggak mau. Satu. Enggak, enggak, saya enggak mau ya. Tunggu dulu. Disimpulkan lagi. Saya sudah simpulkan tadi. Saya tidak mau dengar, saya sudah selesai itu. Iya. Oke. Pati. Pati itu banyak orang yang patah
51 words, the words spoken in the first 30 seconds at 102 words per minute.
Free, no signup. See how the first 30 seconds hold attention, with rewrites.
Sentence shape
| Measure | This transcript |
|---|---|
| Sentences | 161 |
| Average words per sentence | 8.2 |
| Longest sentence | 157 words |
| Questions asked | 10 |
| Sentences containing a number | 8 |
Most used terms
Filler phrases
1 in total: uh 1.
A literal whole-word count of the same phrase list the Prepublish browser extension uses, so a phrase inside another word is not counted and a phrase used in its ordinary sense still is. It is a count and not a judgement.
Free, no account. See where attention is likely to drop, with a rewrite for each weak line. The free check shows the scores and the one issue costing the most. Or run it on the words above first.
Free · No login · See a sample audit first if you prefer.
What this transcript is
Every word below is the caption track YouTube publishes for this video, pulled from the video itself and reproduced unchanged. It is not Prepublish's writing, not a summary, and not a re-transcription: it is the video's own published captions. Indonesian captions, generated automatically by YouTube, in the video’s original language. Source: the video on YouTube. A channel that would rather this page did not exist can ask for its removal through the contact page, and it is removed.
Karena semakin banyak pertimbangan, maka tujuan itu semakin jauh dan semakin tidak tercapai. Itu saja. Enggak, saya enggak mau. Satu. Enggak, enggak, saya enggak mau ya. Tunggu dulu. Disimpulkan lagi. Saya sudah simpulkan tadi. Saya tidak mau dengar, saya sudah selesai itu. Iya. Oke. Pati. Pati itu banyak orang yang patah hati dengan Pati. Karena kabur. Tapi banyak juga yang panen simpati. Kita enggak butuh itu. Iya, enggak butuh itu, tapi faktanya itu.
Kita butuh penyelesaian. Bukan. Setelah itu terjadi, dua hal berlangsung bersamaan. Ada yang panen simpati, merasa bahwa aspirasi kemarahan publik diuraikan dengan bagus oleh kalian. Ada yang patah hati. Karena kalian kabur. Fakta itu mesti ada dulu, baru kita diskusi itu. Oke, saya mulai dari situ ya. Dengar ya. Satu hal yang bisa diterangkan dengan dua cara menjadi dua hal. Di situ kebingungan kita. Tadi ada berita Messi mundur dari tim Argentina.
Apa penyebabnya? Keterangan yang ada di dalam tulisan tangan Messi, dia bilang, "Sudah cukup yang saya berikan buat Argentina. Tidak mungkin lebih lagi, maka dia mundur." Kalimat berikutnya, "Saya tahu ada banyak anak muda yang bisa meneruskan keahlian sepak bola. Ada dua keterangan, jangan yang benar. Hei. Kalimat ketiga dia bilang, "Bahkan saya makin yakin untuk mundur karena ayah saya meninggal." Tiga keterangan dari satu orang.
Yang tidak diterangkan adalah surat itu sudah dia buat dua hari setelah Argentina kalah di Piala Dunia. Jadi bahkan sebelum ayahnya meninggal, dia sudah putuskan buat mundur. Begitu cara kita menganalisis. Ada yang tersembunyi yang enggak jelas itu. Karena itu orang anggap bahwa peristiwa demo kemarin ada banyak variabel. Itu pentingnya diskusi itu. Marah ke segala arah artinya marah tanpa arah. Coba kita buka sedikit soal ini.
Ada undang-undang perampasan aset. Anda tuntut supaya itu disahkan. Setujulah saya. Anda tambahkan hukuman mati, saya enggak setuju. Jadi semua hal yang Anda terangkan itu di dalamnya ada kontroversi. Seandainya Anda cuman berhenti pada tuntutan disahkan secepat-cepatnya dalam temp dengan cara saksama dalam tempo singkat-singkatnya, mungkin banyak orang bertepuk tangan. Tapi begitu istilah hukuman mati dimasukkan, dia bertentangan dengan adab Pancasila bahkan.
Kontroversi mulai. Enggak ada hak orang untuk membunuh orang dengan alasan apapun karena ada potensi falibilisme, salah tangkap, salah duga, salah hitung. Jadi kompleksitas itu mesti kita bongkar tuh. Begitu Anda sebut pembuktian terbalik, uh saya paling senang. Tapi mesti dieksplisitkan pembuktian terbalik. Siapa orang paling kaya di Indonesia? Dia yang mesti ditangkap duluan. Ada orang yang pernah berkuasa. Uangnya banyak.
Karena dia jadi raja di semua kabupaten. Di semua suku. Raja di Lampung, raja di NTT. Pasti uangnya banyak, namanya raja. Kenapa enggak dia yang ditangkap duluan? OC CPR. Uangnya banyak. Bahkan dia bilang ada 11 triliun di dalam kantongnya tuh. Begitu cara diskusi itu. Kita mau tajamkan persoalan. Itu masalahnya tuh. Isu lain. Kerugian negara, siapa yang berhak nentuin itu? BPK. Enggak boleh, BPK itu politisi. Enggak, dia dia akuntan.
Loh, BPK itu di di-fit and proper oleh DPR. Dia hasil dari keputusan politik. Saya mau terangkan cara berdiskusi itu. Supaya kita enggak sekedar marah itu. Kita oke, kerugian negara undang-undangnya disahkan tanggal 15. Yang periksa masih BPK tuh. Loh, BPK politis kok. Boleh enggak saya bikin BPK perjuangan atau BPK swasta dengan keahlian yang sama sebagai akuntan? Metodenya sama, matematik, statistik. Tapi begitu yang periksa BPK, orang enggak peduli.
Pasti bohong. Apa lagi? Anda tuntut, semua tuntut perampasan aset. Kenapa? Karena antibiotik awalnya sudah enggak bekerja tuh. Padahal ada KUHAP. Naikin, ada KPK. Dua-duanya antibiotik. Sudah enggak mempan, padahal belum dipakai maksimal. Pergi tiba-tiba tuh, perampasan aset. Dia menarik. Karena gayanya itu perampasan aset, bahkan perampokan aset. Tapi kita mesti hitung, nanti satu waktu dia juga jenuh gitu. Lalu apa lagi di atas itu?
Hukuman mati. Hukuman mati itu kalau cuman dibunuh itu enggak ada efek jera. Kalau mau hukuman mati si koruptor bawa ke Monas, dikuliti pelan-pelan jemur di matahari perasin jeruk. Kasih garam. Terus taruh semut. Mesti disiksa habis-habisan. Kalau itu efek jera namanya festival of torture. Jadi kita mesti mikir. Begitu argumen kita keluar dari otak kita atau dari mulut kita, kalau otaknya enggak nyampe kita hitung konsekuensinya tuh.
Sekarang soalnya adalah publik marah bukan pada koruptor, tapi pada kesenjangan ekonomi itu. Dasarnya tuh. Kalau lah cuman koruptor 10.000, 10.000 dan Anda sama dengan saya pendapatannya, ya enggak ada yang marah. Tapi karena kesenjangannya besar sekali. Sementara Anda statusnya marhaen marahlah marhaen. Jadi itu intinya. Publik public outcry itu karena disparitas tinggi sekali. Jadi kita coba asuh perlahan-lahan isu ini.
Supaya betul-betul suara masyarakat sipil jadi mens rea untuk memberantas korupsi, bukan suara politisi, bukan suara akademisi, bukan suara macam-macam, hanya suara masyarakat sipil. Nah, Anda pasti itu datang dengan ide yang sama, suara masyarakat sipil tuh. Idenya clear. Kemarahan Anda itu kita mengerti, bahkan saya mendukung itu. Tapi perhitungan-perhitungan di belakang itu membuat orang, ini benar apa enggak nih?
Mens rea Anda adalah keadilan sosial. Mens rea DPR adalah pamer momentum. Beda-beda. Jadi sekali lagi, kita ingin supaya ada peradaban argumentasi di Republik ini. Supaya kita tuntun perlahan-lahan peristiwa ini agar tidak jadi mainan di ujung tahun nanti. Kalau Pak Dasco akhirnya mundur tanggal 15 karena ada peristiwa politik, dia enggak sanggup selesaikan itu, dia mundur. Maka pemberantasan korupsi sudah selesai. Coba bayangin, [mendengus] absurditas itu.
Dasco bilang, kasih saya 20 menit lagi, enggak bisa. Harus jam 10.00 pagi itu. Anda mesti tuntut itu jam 10.00 pagi. Dia bilang saya enggak sanggup, dia mundur. Dan di luar sana, seorang raja lagi membangun kerajaan untuk masuk membatalkan undang-undang itu. Is the point. Pikiran taktis diperlukan, pikiran strategis diperlukan tuh. Jadi teman-teman semua, saya tahu bahwa ada kemarahan kita. Dan kita mau tuntun negeri ini supaya jangan kemarahan itu justru jadi peluang seseorang untuk mengambil alih kekuasaan atau memperpanjang kekuasaan dan menimbulkan pemerintahan yang makin otoriter tuh.
Saya senang bahwa kita boleh ucapkan semua hal bahkan dengan kemarahan, tapi akal sehat mesti mendahului kemarahan kita. Yang kita percakapan kemarin seringkali kita sibuk lihat pohon. You cannot see the wood for the trees. Anda enggak mungkin lihat hutan itu kalau cuma lihat pohon-pohon. Jadi percayalah bahwa energi yang kita pakai selama reformasi tahun-tahun saya ada di LSM itu dan saya melihat kekacauan bahkan di LSM.
Saya mengerti kimia partai politik, saya mengerti isi kabinet itu. Tapi sekali lagi harus ada kesepakatan bahwa perjanjian dengan rakyat harus mendahului konsesi-konsesi di belakang layar. Yang kita mau duga sekarang adalah pasti ada konsesi di belakang layar. Jadi kecurigaan lebih penting daripada kejujuran hari ini. Kecurigaan akan menyelamatkan kita. Kejujuran akan membuat kita jadi aktivis palsu. Undang-undang itu adalah alat politik.
Dibuat dengan maksud etis, diselewengkan secara politis. Jadi sekali lagi salam buat teman-teman di Pati, pastikan bahwa perjuangan kalian adalah perjuangan kita semua. Kesempatan untuk memperbaiki Indonesia ada di masa hari-hari kesulitan ekonomi bercampur dengan kegenitan politik dibumbui dengan upaya untuk saling mengintip ini waktu yang tepat untuk menuntun kembali Indonesia dengan akal sehat. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[tepuk tangan] Saya tambah sebentar. Saya tambah sebentar boleh ya? Ini mungkin mungkin terakhir ini ya. Saya pernah diberikan ilmu sama Bapak saya. Kalau kita menuju ke suatu tujuan jangan perbanyak pertimbangan karena semakin banyak pertimbangan maka tujuan itu semakin jauh dan semakin tidak tercapai itu saja justru demi justru demi tujuan itu semua pertimbangan mesti diurus secara tertib itu dasarnya Pak Karni boleh enggak kalau sekiranya kita simpulkan dulu sedikit saja atau mempertegasnya enggak saya enggak mau [berdehem] enggak enggak saya enggak mau simpulkan lagi saya sudah simpulkan tadi saya tidak mau dengar saya sudah selesai itu satu bahwa kita semua yang ada di forum ini setuju agar segera RUU perampasan aset dibahas itu dulu ya ngapain itu sudah pasti dijanjikan tanggal 15 tanggal 15 apa pentingnya dibahas lagi pasti dibahas itu sekarang fokus kita adalah salah satunya mengawal isi dari RUU perampasan aset ini itu dengan sendirinya itu yang saya ingin itu tugas orang-orang yang pintar ini hari-hari ini jadi ketemu ya sudah kita sudah menetapkan tanggal 15 silakan ada itu mengawal materi ini supaya tidak disalahgunakan habis
The words are the caption track's own and nothing is reworded or re-transcribed. Paragraph breaks are placed between sentences so the text reads as prose.
Free tools for your own script: paste a draft and see where it stands before you record it.
Paste your draft and see where viewers are likely to drop off, with a rewrite for each weak line.
Paste the first 30 seconds of your own draft for a hook score and rewrites.
Check your draft against YouTube's advertiser-friendly guidelines before you record it.
Read this channel's public videos and transcripts, and download a writing brief for it.