Getting the transcript
Reading the captions from YouTube. A video nobody has opened here before takes 10 to 30 seconds; this page fills in on its own.
Getting the transcript
Reading the captions from YouTube. A video nobody has opened here before takes 10 to 30 seconds; this page fills in on its own.

Gita Wirjawan · @gwirjawan
Where viewers went back to watch this video again, from YouTube's public Most replayed graph, lined up with what was said at that moment.
Most replayed moment #1
10:0318.8x the video's typical replay level
ini ya. Si A misalkan si A ini jadi presiden, programnya ingin SDM, hasilnya itu baru kelihatan di tahun 12 ya, setelah mereka lulus SMA. Nah, enggak ngerasain loh, Pak. Yang akan merasakan hasilnya adalah presiden
Said at 9:57
Most replayed moment #2
22:3017.1x the video's typical replay level
coba deh kita eksperimen. Kita rekrut 100.000 guru. Total guru kan Rp3 juta dari TK sampai SMA. Rp100.000 dulu deh. Masing-masing gaji Rp40 juta. Jangan 2,6 jangan 2,8. R
Said at 22:22
Most replayed moment #3
16:2916.8x the video's typical replay level
membuka suatu kebaruan gitu. Saya misalnya sekarang juga saya sebagai praktisi masih sering ee membimbing kemarin baru saja membimbing mahasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi seni. [mendengus] Saya waktu menjadi penguji ataupun lagi
Said at 16:21
The graph counts replays. It does not show where viewers stopped watching.
Words
4,872
Runtime
40:11
Speaking pace
121wpm
Reading time
20min
121 words per minute, below the 160 25th percentile of 349 measured videos. That distribution comes from the 349-video hook study.
Opening (first 30 seconds)
Orang yang enggak belajar itu rugi. Walaupun secara finansial kita enggak naik, tapi secara knowledge dan keputusan kita akan cenderung mengambil keputusan dengan baik. Dan lima hal ini yang membuat saya seperti ini. IQ saya betul 148. IQ saya di situ. Saya tes tiga kali 141, 142, 148. TP TPA saya di 600-an lebih. Tapi itu tidak berarti apa-apa kalau ilmu
61 words, the words spoken in the first 30 seconds at 121 words per minute.
Free, no signup. See how the first 30 seconds hold attention, with rewrites.
Sentence shape
| Measure | This transcript |
|---|---|
| Sentences | 521 |
| Average words per sentence | 9.4 |
| Longest sentence | 74 words |
| Questions asked | 39 |
| Sentences containing a number | 64 |
Most used terms
What this transcript is
Every word below is the caption track YouTube publishes for this video, pulled from the video itself and reproduced unchanged. It is not Prepublish's writing, not a summary, and not a re-transcription: it is the video's own published captions. Indonesian captions, generated automatically by YouTube, in the video’s original language. Source: the video on YouTube. A channel that would rather this page did not exist can ask for its removal through the contact page, and it is removed.
Orang yang enggak belajar itu rugi. Walaupun secara finansial kita enggak naik, tapi secara knowledge dan keputusan kita akan cenderung mengambil keputusan dengan baik. Dan lima hal ini yang membuat saya seperti ini. IQ saya betul 148. IQ saya di situ. Saya tes tiga kali 141, 142, 148. TP TPA saya di 600-an lebih. Tapi itu tidak berarti apa-apa kalau ilmu itu tidak diamalkan ke hal yang realita. Ilmu itu hanya menjadi orang pintar biasa.
Kalau saya ya gini-gini doang. Itu alasan saya ngomong sama Bapak saya. Ya, kalau saya tidak menggunakan mesos ini untuk edukasi kesehatan dengan bahasa yang normal atau edukasi mengenai pandangan saya mengenai pendidikan h ya mereka enggak akan mereka ngiranya dokter tuh akan gitu terus pakai jaz putih galak. Mereka akan ngira bahwa ya kesehatan itu mahal. Itu alasan. Jadi culture saya knowledge. Kalau Bapak saya bukan dosen, saya enggak akan kayak gini, Pak.
Ini ini ada beberapa poin yang saya mau jemput, tapi saya mau menyampaikan beberapa data poin lah. Apa yang berdasarkan pengalaman Anda yang menurut Anda bisa dilakukan untuk meningkatkan rata-rata IQ orang Indonesia? Yang pertama nih, IQ-nya itu kalau enggak salah 78,9. Betul. Kedua, yang bikin banyak orang di Indonesia gelisah itu adalah skor PISA kita. Oh, iya. Pisa itu kan capaian untuk kepentingan stem dan bahasa untuk anak-anak umur 15 tahun.
Indonesia tuh terakhir skornya tuh nomor 69 dari 81 negara. I Singapura sudah nomor satu. H Tiongkok kalah sekarang sama Singapura jatuh ke nomor dua. Nah, ketiga saya tuh dengerin Anda sangat bisa bercerita dengan penuh keyakinan dan saya seringki menyampaikan kepentingan kita semua di Indonesia untuk lebih bisa menjadi storyteller. Oh ya, saya ingat kuliah itu. I saya ingat kuliah Pak kita itu. Iya. Kita tuh di komunitas internasional enggak terlalu dikenal.
Yang lebih dikenal tuh orang India sebagai pendongeng. Iya. Story iya kan? Storyteller. Kalau di Asia Tenggara mungkin orang Singapura. Nah, kalau menurut saya atribut-atribut positif yang ada di Anda itu sangat bisa disebarluaskan. Untuk satu bisa meningkatkan IQ. Oke. Dua, syukur-syukur meningkatkan skor pisa kita ya dari nomor 69 ya. syukur-syukur nomor satu atau nomor lima atau top 10 lah. Iya. Iya kan? Dan di Asia Tenggara tuh yang di top di atas rata-rata dunia tuh cuman dua negara yaitu Singapura dan Vietnam.
Oh iya. Oh iya betul. Sangat. Vietnam sudah mulai nyusul kemarin saya baca beg. Iya jadinya kayak Malaysia, Thailand, Filipina, Indonesia semua tuh di bawah rata-rata dunia. Rata-rata dunia tuh skornya 488 kalau enggak salah untuk PISA. Nah, yang ketiga, gimana bisa bercerita seperti Anda? pertanya kayak dosen ya. [tertawa] Saya tuh nonton kuliah tapi gini saya saya kan udah udah cukup lama ngajar ya. Tapi saya tuh dulu sebagai mahasiswa saya pikir lebih sulit enggak lebih sulit jadi dosen ternyata jadi dosen tuh lebih sulit.
Oh iya saya untuk persiapan ngajar dan segalanya tapi belajar dari murid tuh lebih banyak daripada murid belajar dari dosen kalau menurut saya ya. Oh betul ya itu nyata. Oh, jadi yang dikatain dosen saya Bu Nila tuh benar ya, kadang benar sekali. Tadi saya relate sekali yang beliau bilang belajar tuh enggak harus dari dosen. Saya juga dengerin kalian bercerita tu saya belajar. Sangat sangat saya saya nyambung tuh dengan itu.
Sama berarti. Jadi untuk meningkatkan IQ itu menurut saya PR ada tiga dari diri kita, lingkungan kita, atau yang terakhir public government. Yang pertama saya bilang dari diri kita, personal kita itu adalah habit. kita tuh kurang habit untuk pembaca. Siap. Dan kita kurang habit membaca itu karena kita kurang perpustakaan di sekolah dan identik membaca itu adalah dengan buku akademik. Menurut saya, menurut saya nih ya, menurut saya bukan menurut orang nih.
Saya disclaimer dulu. Buku yang harus dibaca sejak anak kecil itu bukan buku akademik yang di rumah, tapi buku ilmu pengetahuan. Karena itu yang saya lakuin ke anak saya. Dan baca buku zaman sekarang tuh bukan hanya dari buku fisik, ebook, iPad-nya dikasih buku, bukan hanya YouTube. Kalau memang anaknya enggak mau baca, kasih YouTube yang memang ada tayangan ilmiah ya, buku. Jadi buku itu bercerita. Kalau memang dia masih TK, ya komik, dongeng.
Semakin dia sering membaca, apa yang dibangun di dalam otak anak kita itu adalah kesinambungan berpikir kritikal. Siap. Kenapa ini terjadi? harus ini. Ini terjadi karena ini. Nah, kenapa kok anak kita itu seperti ini? Karena mereka bukan terbiasa kritikal, terbiasa menghafal. Itu yang saya kritisi dari awal. Previleg saya di SD Kanesius, SD Katolik itu saya tidak disuruh ngfal. Saya disuruh memahami siot tuukanisius, Bangi Luhur dan Nurulin.
Bukan saya memandang bahwa yang lain enggak. Di Muslim ada Muhammadiyah sama Insan Sindekia. Insan Sindekia itu orang yang masuk akal semua. Orang-orangnya orang-orang jenius semua. Jadi yang saya lihat dari SMA yang proper baik SMA Islam, Katolik, Kristen atau apapun itu mereka itu membuat murid untuk memahami bukan untuk menghafal. Loh, itu yang pertama. Siap. Lingkungan. Nah, lingkungan ini yang saya lihat privilate saya tuh Bapak, Ibu, saya pengajar.
Iya. Luar biasa. Itu yang menurut saya tidak bisa memaksa lingkungan keluarga lain pengajar. Jadi untuk nomor dua ini bisa dilakukan bisa enggak. Tapi lingkungan duman 2 saya akan memberikan saran kepada orang tua yang anaknya gen alpa berarti orang tua generasi saya atau generasinya anaknya Bapak mungkin ya yang lahirnya tahun 2010 ke atas eh 2014 deh. 2014 ke atas berarti sekarang masih umur 10 tahun. H ajaklah ngobrol.
Kenapa? Karena anak Anda ini anak Anda itu bukan mentang-mentang dia anak-anak. Mereka tuh enggak bisa paham. Bedanya anak kecil dan dewasa cara kedokteran adalah anak kecil tuh enggak bisa balas omongan, H tapi mereka memahami apa yang kita omongin. Jadi kalau Anda ngomong ke bayi, makan ngomong, mereka tuh paham Anda ngomong apa. Dan anak itu copy cat, copy cat dari orang terdekat. Jadi kalau anaknya hobi ngomong kotor itu jelas orang tua.
Iya. Kalau orang tuanya enggak ada berarti ccelnya dia. Iya. anak tuh copy cat. Jadi ajaklah ngobrol dan karena anak keinginan tahunnya gede, kasih tahu Anda tuh cari uang dari mana. Nah, ini kan tentatif ya. Yang membuat saya berubah di SD itu adalah ketika orang tua saya mengajak saya ke kantor. Jadi saya tahu bapak, ibu saya tuh ngapain cari uang tuh ngapain. Itu akhirnya yang saya lakukan ke anak saya. Anak saya tu saya ajak ke kantor nih bapakmu kayak gini.
Kalau di rumah sakit gini, dokter itu gini. Dan akhirnya itu yang mengakibatkan anak akan paham bahwa hidup ini butuh uang dan anak itu akan merasa dianggap karena diajak ngobrol terus. Jadi mereka belajar kosakata itu dari orang tuanya. Nah, yang saya lihat di beberapa parenting sudah belajar belum? Kenapa? Ya, apa? Ah, rewel terus kamu. Papa capek kerja berisik. Jadi, anak tidak diberikan kesempatan buat ngomong. Akibatnya apa?
Di masa yang dewasa ana enggak berani berpendapat. Itu alasan kenapa tidak semua anak Indonesia jadi storyteller, Pak. Karena ketika di keluarga aja mereka enggak dikasih kesempatan ngomong. Baru ngomong dikit tukang bantah kamu. Durhaka kamu jadi anak kecil. Padahal baru cuman ngomong, "Pak, Doraemon." Enggak gitu, Pak. Jadi anak kecil itu karena mereka belum bisa membedakan baik dan buruk, mereka tuh sangat vokal. Jadi, polos ya.
Karena terjadi di anaknya temanku ini om-om yang suka ngomong-ngomong aneh-aneh. Jancok-jancok di YouTube ya. Wah, jangkrik. Habis itu saya nutup tato karena mulai anak-anak teman saya itu mengkritisi saya muncul di TikTok. Pak Tirta, Pak Tirta dulu rambutnya pink. So dulu saya enggak mikir itu. Ternyata saya tuh berpengaruh ke mereka. Jadi itu nomor dua ya. Yang nomor tiga. Kalau nomor satu sudah habit membaca lingkungan keluarga, government.
Government ini paling penting adalah sistem pendidikan kita itu harus diubah bukan bukan soal ranking atau apapun ya. I tapi menyamaaratakan kualitas pendidikan itu dulu. Terserah mau caranya gimana tuh saya yakin yang tahu pasti ahli-ahli S3, PhD, pembuat kebijakan. Tapi sebagai saya orang yang mengajar kuliah umum, part-time, kualitas pendidikan kita itu masih tidak rata. Selama sekolah negeri dan sekolah swasta masih dibandingkan.
Se selama sekolah di Pulau Jawa dan di Papua masih dibandingkan itu gap knowledge-nya akan sangat tinggi. Kalau mau negara kita maju, generasi emas 2045, habiskan anggaran untuk menyamaaratakan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Selesai, Pak, masalah. But ini prosesnya panjang, Pak. Iya. Pendidikan itu 12 tahun. Iya. Jadi artinya kalau misalkan Presiden A misal si A gitu, si saya enggak mau foto ini ya. Si A misalkan si A ini jadi presiden, programnya ingin SDM, hasilnya itu baru kelihatan di tahun 12 ya, setelah mereka lulus SMA.
Nah, enggak ngerasain loh, Pak. Yang akan merasakan hasilnya adalah presiden yang di tahun ke-12. Kalau dia menang dua periode berarti 10 tahun ya, dia membangun. Jadi kalau kita membangun SDM itu hasilnya jelas. Jepang, Korea, Finlandia, Eropa itu SDM. Tapi hasilnya itu tidak bisa dirasakan di 10 tahun. Iya, tahun 12. Nah, komitmennya berani enggak di situ? Di situ saya diskusi dengan salah satu teman-teman politik.
Hm. Berat karena enggak bisa dijadiin bahan campaign. Why? Kembali lagi marketnya itu menilai kalau pemimpin sukses itu dinilai dari hasil fisik. Hasil fisik itu sulit. Nah, pendidikan kan intangible. Betul. Fisik itu kan tangible, bisa dipegang, bisa dilihat, bisa dirasa. Pendidikan itu intangible. Aset intangible. Jadi hasilnya baru kerasa setelah 12 tahun. Nah, kalau yang nomor dua ini jadi nomor tiganya enggak, yang ada ngjomplang.
Jadi nanti ada yang IQ-nya 140, ada yang 50. Itulah yang terjadi. Kenapa average Indonesia 78? Karena outli-nya ini dikit. Jadi orang pintar ya jadi outlier yang bawah ini 50 70. Karena mereka tidak tahu harus ngapain. I yang bisa membuat itu adalah government. H bukan hanya menterinya tapi pemimpinnya. Pemimpinnya diturunkan ke gubernurnya, diturunkan ke bupati walikota, itu harus ada roadmap yang jelas. Yuk kita duduk bareng nih kita nih kita nih kalau enggak ramay pendidikan kayaknya kayaknya 2036 remuk nih.
Goling nih kita nih. Goling nih kita. Jadi gimana nih? Dah dah kita partai beda-beda nih bro. Yuk, yuk, yuk. Gua punya roadmap. Ini road map gua. Tapi roadmap gua ini tidak akan bisa dilaksanain. Ini saya ngomong bahasa anak muda ya, Pak. Road map go ini tidak akan bisa dilaksanain sama saya. Yang manain kalian nih kalau kalian yang menang atau kalian yang menang atau kalian menang. Tapi kompak dulu nih roadmap ini jalan bareng yuk.
I tiap ganti pemimpin roadmap-nya ganti. Iya. Tiap ganti pemimpin roadmap-nya ganti. Tiap ganti pemimpin pendidikannya ganti. Kan pusing PBDB kemarin nanti ini ganti lagi, nanti diganti lagi. Nah, pergantian itulah yang membuat gurune pusing dedos. Ini belum kita bahas mengenai gaji guru, honorer, dan kawan-kawan ya, Pak ya. Baru bahas mengenai roadmap. Nah, tiga ini menurut saya sebagai praktisi yang penikmat pendidikan, salah satu penikmat privilege, itu yang akan membuat pisah skor kita naik dan IQ kita naik. terus berdongeng, bercerita apa yang bisa dilatih.
Itu dari yang poin nomor dua. Dua orang tua, Teman-teman sekalian yang generasi alpa kasih anak Anda buat kesempatan buat ngomong. Mereka tuh bukan kurang ajar, bukan bantah. Bapak saya tuh memberikan kesempatan saya untuk berpendapat. I setol apapun pendapat saya dan dia enggak pernah nyalahin tapi adu bantah. Jadi kalau saya diskusi sama Bapak saya bisa 4 jam paling fatal soal apa, Pak? Beli mobil SMA kelas 3 Bapak saya tuh pengin beli Grand Lina.
Saya nolak. Kenapa? Grand Lina itu five seater loh. Tapi kita ngapain? Papa tuh kan hobinya pindah-pindah wisata, sering jalan jauh beli yang 2000 cc debat 1 bulan. Akhirnya dibeli Innova sesuai bukan berarti Livina enggak jelek ya. Tapi itu bukti walaupun debatnya sebulan Bapak saya dengarin pendapat saya sebagai anak saya merasa pendapat saya diakuin yang membuat anak enggak mau bercerita karena pendapat dia enggak pernah didengerin.
Jadi akhirnya dia menutup skill storyting itu sampai tua. I jadi ketika di depan umum ciri khasnya gini Pak. Ciri khas anak kecil yang enggak pernah dikasih kesempatan ngomong ayo ngomong di depan umum. Pasti gini eh anu ya anuah itu artinya di keluarganya dia enggak pernah dikasih chance buat untuk ngomong. Ngomong dikit hal ini seringnya anak orang tua nih ngomong alah anak kecil tahu apa itu kalau saya orang tua itu ngeselin tuh Pak.
Iya orang alah anak kecil tahu apa kau yang kedua masih kecil ngapain sih ikut-ikutan omongan orang tua? Nomor tig bantah kamu. Ah dengerin aja. Padahal belum tentu orang tuanya lebih pintar loh. Iya. Kalau anaknya prodigi gimana? Itu membunuh. Iya. Jadi kalau kalian sebagai orang tua itu tidak memberikan kesempatan anak buat ngomong itu dia sampai tua enggak akan jadi storyteller. I kecuali dia ketemu privilege lingkungan yang mendukung.
Contoh dia ketemu lingkungan yang memaksa dia ngomong. Jadi akhirnya dia jadi storyeller handal. Pengalaman saya waktu SD ya, SMP, sistem pada waktu itu sepertinya kita memang belajar itu one way. Kami sebagai murid, kita sebagai murid, saya merasanya tuh banyak menerima gitu. apa yang diajarkan guru tidak terlalu disuruh mikir untuk ide kamu apa. Ada kata yang sangat penting yang kurang diangkat dalam sistem pelajaran di Indonesia ini adalah bagaimana setiap studen, setiap anak menjadi anak yang mempunyai kaya gagasan. kayak ide sehingga ke depannya kan bisa jadi inovator-inovator.
Ee anak-anak kita masih terasa takut gitu menyampaikan gagasan bahwa ini takut salah, ini takut salah. Nah, karena kebaruan itu adalah hal yang penting untuk menunjang ee apa pembangunan bangsa kita ke depan keberanian dan kesiapan untuk membuka suatu kebaruan gitu. Saya misalnya sekarang juga saya sebagai praktisi masih sering ee membimbing kemarin baru saja membimbing mahasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi seni.
[mendengus] Saya waktu menjadi penguji ataupun lagi jadi pembimbing itu terus mendorong di tesis kamu ini terus kebaruannya apa? Kalau bisa baru kamu yang melakukan ini gitu. Kalau misalnya dia dalam penciptaan kan ada dua nih. Kalau di sini ada penciptaan, ada pengkajian. Kalau hanya mengikuti yang sudah ada, itu enggak ada kebaruannya gitu. Nah, dari beberapa mahasiswa yang saya uji ataupun saya bimbing yang menunjukkan kekuatan kebaruan dan gagasannya kuat itu menurut saya baru 20% aja.
Misalnya dari 10 dua yang brilan yang seperti itu. Delapan yang delapannya itu ee ya tertib aja bagus ee pasif pasif pasif tidak punya gagasan liar apa yang ini. [mendengus] Nah, ini yang [berdehem] jadi masalah sehingga pada saat dia menjadi pemilih gampang dibelokkan ya dengan amplop. Iya ya. Karena kan amplop pada saat itu nyata gitu. Belok dia pilih itu pilkada menang. Yang paling banyak amplop pasti menang itu ya tanpa mengurangi rasa hormat ya.
Tapi kenyataannya begitu. Pada akhirnya politik kita jadi politik uang. Tapi balik lagi ke guru. Saya rasa saya setuju sekali. He. Konsentrasi Indonesia sekarang adalah memperbaiki kesejahteraan guru juga. Kesejahteraannya sangat kesejahteraannya enggak enggak mungkin kalau guru digaji 2,8. Iya. Kita bisa mengerekrut yang berkualitas. Sekreatif apa guru itu akan menjadi dia dia bakal yang berkualitas bakal mau kerja di Apple, di Google atau di Danantara itu.
Iya kan? Karena mungkin di sana gajinya puluhan juta. Betul. Tapi kalau seorang guru sebetulnya banyak kalau menurut saya yang mau jadi guru. Tapi dia enggak bisa naruh makanan di atas meja selama kompensasinya terbatas. Betul. Jadi ini jadi seorang anak tuh kalau di rumah dia berhadapan dengan kepala rumah tangga. Kalau dia punya pendidikan S1 alhamdulillah dia bisa ngajarin nilai-nilai yang bermanfaat. Tapi kalau orang tuanya enggak punya pendidikan itu ya mohon maaf.
Nah, jadi harapan yang lebih besar adalah begitu dia jalan atau naik BMO atau naik kereta ke sekolah di mana guru berhadapan dengan 20 sampai 200 siswa-siswi kalau di rumah cuman dua atau tiga orang kan. Benar. Skalanya lebih bisa dipertanggungjawabkan di sekolah. Tapi kalau yang ngajar enggak berkualitas, ya skala mohon maaf kebodohannya akan sangat bisa dipertanggungjawabkan juga. Karena orang yang enggak berkualitas ngajar di depan 20 sampai itu.
Tapi kalau gurunya berkualitas, kita bisa mengskalakan kecerdasan, kecakapan, kemahiran, kepiawaian. Ini kalau menurut saya ya, Anda sebagai budayawan, kita harus bisa membudayakan bahwa kemuliaan profesi guru itu sangat tinggi dan itu harus ditopang dengan kompensasi. Harus itu. Iya kan? Kalau enggak budaya kita akan lemah, seni kita akan lemah, ekonomi kita akan lemah, kebijakan kita akan lemah, ya kita hanya mungkin bisa datangin 15 juta wisatawan asing, bukan 150 juta wisatawan asing.
Itu kan devisa. Spanyol populasi R0 juta, tapi bisa datangin 80 sampai 90 juta wisatawan asing. Yunani juga Yunani dengan populasi yang kecil juga bisa datangin dua tiga kali lipat dari populasi. Itu karena mungkin kualitas pendidikan dan skala pendidikan dan itu berkorelasi dengan kualitas guru guru ya. Saya saya enggak terlalu mau memprioritaskan kurikulum dan teknologi untuk sementara. Saya lebih mau memprioritaskan guru.
Ini harus digajian. Iya kan? Anda bisa jadi musisi yang hebat karena Elfa, karena ibu, karena guru klasik. Itu guru. Iya. mau sebagai orang tua, mau sebagai guru klasik, mau. Tapi mereka tuh menyuntik bukan hanya gimana cara main lagu untuk nulis orkestra, tapi menyuntik nilai-nilai lain yang sangat nyambung dengan eksistensi Anda sebagai budayawan. Betul kalau benar sekali. Jadi apa [berdehem] kesejahteraan guru ini memang miris ya.
Saya tanpa mengi rasa hormat misalnya daripada makan siang bergizi gratis itu lebih baik guru dulu diperhatikan diangkat kompensasinya dan sebagainya. Ya, MBGs penting mungkin itu masalah stunting ya, bahwa anak-anak Indonesia masih kurang gizi dan kalau menurut saya dua-duanya bisa dilakukan, bisa bareng ya. Makanan bergizi itu penting untuk mengurangi stunting. Kita kurang protein tapi gurunya juga di tapi dia juga harus ditopang dengan software.
Software itu guru kan? Guru. Dan dan saya beapa kali sempat bicara, coba deh kita eksperimen. Kita rekrut 100.000 guru. Total guru kan Rp3 juta dari TK sampai SMA. Rp100.000 dulu deh. Masing-masing gaji Rp40 juta. Jangan 2,6 jangan 2,8. R juta itu pasti yang daftar tuh yang brilian. 100.000* 4 R 40 juta sebulan tuh R triliun. Setahun R8 triliun. Ya. Tambah hari raya R2 triliun. Anggaran pendidikan itu 600 sampai 700 triliun. masa sih enggak bisa dialokasikan 50-an triliun untuk eksperimen ide yang kalau menurut saya dalam hipotesa saya semestinya bisa dipertanggungjawabkan karena ini akan berkorelasi dengan peningkatan kecerdasan, peningkatan kesejahteraan, peningkatan matrik-matrik apapunlah yang relevan untuk gimana kita bisa membuahkan kebudayaan dan peradaban.
Yes. Yang keren ke depan mau main musik, mau mahat, mau ngelukis itu perlu kognisi. I iya kan? Benar. Enggak mungkin tanpa kognisi. Dan kognisi itu kalau dikelola dikit dia bisa nyambung dengan ambisi dan imajinasi. Kalau neuronnya enggak maksimal, dia enggak ada kognisi. Dia enggak bisa berimajinasi. dia enggak bisa berambisi. Ya, tinggal kehokiannya aja. Tapi kehokian tuh harus digabungkan dengan ambisi [mendengus] dan imajinasi.
Kalau memang ada kepentingan oligarkal he yang berhasil mengkonsentrasi kekuatan apakah itu politik dan ekonomi dan mereka berhasil menggunakan the latter of the law. Walaupun spirit of the law-nya tuh harus meng-favor the majority. Nah, ini ada secara implisit kesan bahwasanya the majority itu tentunya enggak berkuasa dan enggak berpendidikan. He iya kan? Nah, ini kalau kita lihat secara umum pendidikan di Indonesia ini masih ada keterbatasan kan.
Benar. Saya selalu menyampaikan bahwasanya 88% dari kepala rumah tangga dari Sabang sampai Merauke enggak punya pendidikan S1. Heeh. IQ rata-ratanya ya mohon maaf enggak seberkenan seperti apa yang kita inginkan, enggak seberkenan seperti negara-negara tetangga. capaian untuk anak-anak umur 15 tahun dari sisi PISA terkait dengan profisiensi STEM, profeiensi lingual atau bahasa atau komunikasi masih jauh di bawah rata-rata dunia.
Ini variabel yang seakan-akan bisa dimanfaatkan. He. Untuk kepentingan segelintir. Persis ya. Itu kalau menurut saya yang sangat struktural untuk harus diberesin kan. Heeh. Justru saya melihat penegakan hukum yang bisa diwaponize untuk mengangkat mereka, tapi ini justru mengkooptasi. Benar. That's that's the keyword struktural. Jadi memang yang selama ini terjadi menurut saya adalah pembodohan struktural. Iya. Ya kan?
Maksudnya kemiskinan struktural sebenarnya. kebodohan itu juga sebenarnya struktural karena memang enggak ada pemerintah yang otoriter atau punya tujuan-tujuan jahat yang ingin punya warga yang pintar. Karena warga yang pintar dia akan berpikir kritis, dia akan ee challenge policis yang sebenarnya enggak ada gunanya untuk warga. ya mereka akan lebih bawel begitu ya ketika ada korupsi dan lain sebagainya. Perhatikan bahwa misalnya tadi ya bicara peran hukum untuk equalizing.
Mahkamah Konstitusi dengan segala kelemahan dan kelebihannya sebenarnya sudah mengeluarkan putusan yang bilang bahwa pendidikan harus gratis loh. I karena memang di konstitusi kita uniquely dan ini memang unik betul ada alokasi dana pendidikan 20% ee dalam konstitusi loh. Ini jarang banget di negara lain. Nah, kemudian Mahkamah Konstitusi meneruskan dengan bilang bahwa oke SD, SMP, SMA gratis. Tolong diusahakanlah pemerintah.
Kira-kira begitulah. Tapi apa yang terjadi paling tidak setahun terakhir ini sebagian dana pendidikan digunakan untuk makan bergizi gratis. Padahal eh [menghela napas][terkesiap] saya enggak punya angkanya di kepala saya, tapi ada studi yang sudah menunjukkan bahwa kalau sebagian saja dari biaya MBG itu dialokasikan untuk pendidikan mungkin belum full gratis tapi memperbaiki kualitas pendidikan sudah sangat-sangat terbantu.
Tapi kan itu ya prioritis. Ternyata untuk pemerintahan yang sekarang ya ee MBG itu yang harus dilakukan ee bukan untuk mencerdaskan dalam arti memberikan akses untuk sekolah dan lain sebagainya. Jadi bahkan baru-baru ini ngomongin soal itu ya ee data soal kepala keluarga yang berpendidikan ada ini apa diilis has penelitian bahwa kebanyakan anggota DPR RI itu lulusan SMA, SMA-nya yang disetarakan. Saya sih bukannya tergila-gila gelar ya.
I. Tapi saya kira justru itulah di Indonesia generally gelar ijazah itu sebagai simbolisasi untuk apply jadi pejabat A, pejabat B. Makanya banyak doktor juga gitu ya yang bisa dipercepat prosesnya. Guru besar politikus yang sebenarnya enggak pernah ngajar. Karena akhirnya gelar-gelar itu cuma untuk akses untuk jabatan. Ya, tapi sebenarnya dalam pendidikan kita juga enggak ada tuh latihan supaya kita berpikir kritis, berani mendebat.
Itu sering sekali terjadi. Saya ketemu beberapa mahasiswa yang mohon izin, Bu. Gitu misalnya ya. Saya bilang, "Bertanya enggak usah mohon izin." [tertawa] Dan kalian itu kalau kalian saya kadang-kadang challenge kalau kalian bisa saya ngajar penalaran hukum juga kan. Kalau kalian bisa dalam ujian eh men-challenge pikiran saya, saya kasih nilai lebih. Jadi jangan malah menyanjung-nyanjung mengutip menurut B Fitri Susanti bla bla bla ngutip saya sekedar untuk menjilat.
Saya bilang, "Kamu malah dapat nilai jelek. Challenge pikiran saya." Karena memang sekarang ini banyak sekali di dalam pendidikan kita. Saya sudah lompat lagi nih ininya topiknya, tapi buat ini soalnya menggelisahkan buat saya. banyak sekali ee tadi ya masalah strukturalnya jelas pemerintah tidak memberikan prioritas dalam hal pembentukan polisi untuk memudahkan akses pada pendidikan. Tapi yang kedua, sistem pendidikan yang ada sekarang pun tidak memberikan ruang untuk berpikir kritis. gimana untuk kita bisa membudayakan budaya untuk siapapun tuh menyampaikan ke siap pun apa yang dia harus dengar dibanding apa yang dia mau dengar.
Nah, itulah ya kata kasarnya menjilat. Heeh. Iya kan? Heeh. Karena itu kalau [berdehem] menurut saya muara untuk terjadinya atau tidak terjadinya teknokratisasi. Benar. Benar. Iya kan? Atau meritokratis mau vertikal ataupun horizontal. Tapi gimana kita bisa membiasakan anak-anak muda untuk menyampaikan apa yang [berdehem] harus didengar. Heeh. Bukan apa yang mau didengar. Karena itu sangat struktural untuk bisa membuahkan teknokratisasi ataupun meritokratisasi.
Kalau menurut saya memang mesti dari sekolah dan keluarga sih ya. Sekolah pasti ya. Tapi kalau keluarga mohon maaf 88% dari kepala rumah tangga enggak punya pendidikan S1. Benar ya. Anda beneficiary dari orang tua yang berpendidikan. Saya juga alhamdulillah. Tapi mayoritas [berdehem] enggak. Jadi ini yang harus dipikirkan yang 88%. Benar. Benar. Benar. Yang 12% sih yah enggak usah dipikirin lagi. Dan yang bisa didesain structurally ya sekolah sebenarnya.
Betul. Betul. Dan saya kira satu-satunya cara memang membuat apa ya? Ya. Sekolah membiasakan untuk jadi safe space untuk semua orang berdebat. Iya. Saya melihat generally ini yang enggak ada karena sekolah sama dengan universitas itu juga dituntut lagi-lagi struktural ya dituntut untuk lebih banyak mengurusi soal-soal administratif. Iya laporannya, akreditasinya dan seterusnya. tapi enggak berfokus pada gimana ya ngajar biar anak-anak saya pintar nih.
Jadi saya ada beberapa kelompok misalnya guru sejarah SD, SMP, SMA terutama SMP, SMA ya yang ee enggak diberikan ruang yang cukup untuk menggali sejarah Indonesia. Ee adaah pasti secara kurikulum ada mata pelajarannya, tapi juga seperti kita tahu sejarah juga banyak manipulasinya. Tapi banyak guru sejarah yang enggak punya ruang yang cukup supaya anak-anak e muridnya itu bisa mendiskusikan secara lebih terbuka di sekolah.
Akhirnya apa yang mereka lakukan? Mereka bikin diskusi-diskusi kecil di luar sekolah. I keren banget. Dan saya kira model-model seperti itu kalau misalnya secara struktural desain kurikulum kita malah membuka space untuk itu di dalam sekolah kan lebih baik. Menurut Aristotels ya, demokrasi itu bukan pilihan yang bagus. I iya kan? Bagi Aristoteles yang bagus itu aristokrasi digabung dengan demokrasi. Karena demokrasi itu perlu prasyarat.
Kalau Anda rakyatnya masih bodoh tadi, [tertawa] rakyatnya masih bodoh kok pakai demokrasi. Itu yang terjadi jual beli suara sekarang di negara kita. Itu dulu Aristotel sudah mengatakan kenapa di e ini kata Aristoteles ya, kenapa saya tidak setuju eh demokrasi kata Aristoteles tanpa digabung dengan aristokrasi atau politik. Politik itu ee apa namanya harus diatur dengan konstitusi kan. Ee kenapa saya tidak setuju demokrasi hanya begitu saja?
Karena di demokrasi itu hanya akan melahirkan demagog. Demagok itu adalah ya politikus-politikus yang pintar ngomong tapi sebenarnya dia gak tahu apa yang harus di kerjakan. Tadi tadi saya masih baru bergurau sama teman misalnya kalau politisi sekarang itu karena Demagog bohong. Kalau saya terpilih [berdehem] nanti seluruh sekolah bebas gak usah bayar. Saya sudah terpilih gak bisa melaksanakan. Itu namanya demagogok.
Dia gak ngitung dulu ngomong. Kalau yang lebih lucu lagi dulu zaman orde baru ada orang kampili nanti saya bangun jembatan yang bagus di sini. Iya. Kalau ada rakyat bilang, "Pak, sini gak ada sungai kok pakai jembatan. Nanti sungainya pun saya bangun." gitu. Itu demagogok namanya. Dan itu banyak sekarang di Indonesia. Nah, oleh sebab itu demokrasi begitu saja harus diarahkan oleh aristokrat. Siap. aristokrat tuh ya elit-elit politik kelas menengah lah kayak kayak kitalah yang harus mengarahkan ini sampai pada satu situasi di mana tingkat pendidikan masyarakat itu maju tingkat ekonomi masyarakat ni pidatonya Pak Budiono wakil presiden kita waktu guru besar di UGM tingkat ee apa namanya demokrasi itu berdasar hasil penelitian beliau di berbagai negara dan dalam perkembangan sejarah demokrasi itu tidak akan pernah berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai minimal 5000 5.500 US dolar.
Kalau di bawah itu gak akan ada demokrasi. Orang pasti menjual suaranya orang berdemokrasi pasti membeli suara secara tidak fair. Pasti mengintimidasi. Nah, per hari ini pendapatan per kapita itu baru 470 US dolar ya. 4.700. 4.700. 4.700 kan. Jadi masih agak jauh tuh kalau ke 5.500 berapa menurut perhitungan Pak Gita? 2030 bisa enggak? Oh sebelumnya. Hah? Sebelumnya sebelum itu bisa ke 5.500. Nah mudah-mudahan. Bisa.
Iya. Nah kalau bisa itu nanti demokrasi kita akan bagus gitu. Saya mungkin ini sebagai ini aja ya ee pandangan demokrasi itu ada hari ini bisa dibilang resesi. Hm. di negara maju, negara berkembang, bahkan negara he miskin. Karena demokrasi itu enggak bisa hanya sebatas pendistribusian kekuasaan. I, tapi harus termanifestasi dalam pendistribusian public goods. Hm. Termasuk tentunya kesejahteraan, iya kesehatan, intelek, nilai moral, nilai sosial, apapunlah.
Iya. Iya. Tapi ini banyak negara yang mengklaim sebagai demokrasi tidak bisa mendistribusi kesejahteraan. Dan ini empiris kalau kita lihat gen coefficient ratio di negara maju, di negara berkembang, di negara miskin semakin mencuat ke atas, semakin mencuat. kesenjangan semakin meningkat, kesehatan juga tidak terdistribusi. Bahkan di negara maju seperti Amerika dan Inggris, kualitas health care atau pelayanan kesehatan di sana enggak sebagus enggak sebagus di Singapura.
Nah, bahkan saya akhir-akhir ini berargumentasi negara seperti Singapura tuh patut dipertimbangkan sebagai demokrasi karena dia sudah belajar memberikan ruang H lebih banyak ke oposisi, memberikan ruang ke media. He he he. Tapi mereka luar biasa mendistribusikan public goods, intelek, kesehatan, kesejahteraan, nilai moral, nilai sosial. H orang enggak enggak sembarangan buang sampah di sana. Itu kan moralitasnya ada tuh dan keprihatinan terhadap social justice dan segalanya.
Nah, jadinya kalau menurut saya ini semakin kelihatan resesi demokrasi. Resesi demokrasi. Nah, ini balik lagi ke yang tadi penyampaian saya. Kalau umpamanya 88% dari seluruh rumah tangga di Indonesia, He. Itu enggak memiliki pendidikan S1 ke atas, [mendengus] 93% dari elektorat, saya melihat justru ada peluang untuk mendisrupsi i dengan kualitas guru. Karena begitu seorang anak keluar dari rumah, satu-satunya harapan untuk dia bisa i meningkatkan apa ya kognisi itu adalah guru.
Karena orang tuanya dia bukan S1. Iya. Iya kan? Menurut saya mungkin ada jalan untuk memperbaiki demokrasi atau demokratisasi dengan peningkatan kualitas guru di sekolah. I dan saya melihat ini Indonesia sudah eksis sebagai demokrasi cukup lama, tapi kita masih kurang mendistribusi i public goods. Gimana, Pak Ma? Iya. Ya, itu mengonfirmasi sebenarnya teori lamanya tadi yang saya katakan kan ee Aristoteles ketika bicara di dalam demokrasi itu banyak muncul demagog jika pendidikan rakyat yang mau mendem yang mau didemokrasikan itu masih rendah.
Dia literasinya sangat rendah. Dia gak ngerti apa-apa. Pokoknya dijual aja suara. Nah, oleh sebab itu memang pendidikan kemudian menjadi sangat penting. Nah, itu sebabnya karena kesadaran akan itu dulu lalu kan kebijakan anggaran pendidikan untuk kesejahteraan guru, kemajuan perguruan tinggi dan sebagainya itu lalu ditetapkan di konstitusi minimal 20% dari APBN harus untuk pendidikan kan gitu. sebenarnya untuk menjawab hal itu agar pendidikan ini menjadi lebih bagus ya dengan segala kekurangannya kan memang semakin lama semakin maju ya jumlah semakin bertambah tetapi ada orang yang mengatakan tuh bukan karena kebijakan aja tuh karena sebenarnya kemajuan masyarakat tuh terkadang linear aja bukan karena pemerintahnya baik tapi tidak bisa tidak bisa menghindar menjadi bertambah baik bertambah baik bertambah baik tapi okelah pokoknya kita punya negara dan [musik] kita akan ee terus-menerus maju.
[musik]
The words are the caption track's own and nothing is reworded or re-transcribed. Paragraph breaks are placed between sentences so the text reads as prose.
Free tools for your own script. No signup, no login.
Paste your draft and see where viewers are likely to drop off, with a rewrite for each weak line.
Paste the first 30 seconds of your own draft for a hook score and rewrites.
Check your draft against YouTube's advertiser-friendly guidelines before you record it.
Read this channel's public videos and transcripts, and download a writing brief for it.